Menu
SEI GOHONG NEWS

Ribuan Suporter Tuntut Evaluasi Manajemen dan Pengunduran Diri Pelatih, Setelah Kalah 1-2 Dari PSM Makassar

  • Bagikan
banner 468x60

‎Yogyakarta, seigohongnews.com – Kekalahan dalam satu pertandingan memang membuat kita kecewa. Begitu juga yang dialami suporter sepak bola, kekecewaan suporter PSIM Yogyakarta memuncak setelah tim kebanggaan mereka kalah 1-2 dari PSM Makassar, Jumat (16/10/2026).

‎Antonius Fokki Ardiyanto, S.IP., pendukung PSIM, menyuarakan kegelisahan di Wisma PSIM, Baciro, saat ribuan suporter mendatangi markas kebanggaan warga Yogyakarta.

‎Slogan “Ojo Di Dol Yow Dab!” menggema sebagai peringatan agar PSIM menjaga identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Yogyakarta.

‎Fokki menilai lima pertandingan tanpa kemenangan menjadi alarm serius yang menuntut evaluasi menyeluruh dan pertanggungjawaban manajemen, seperti dikutip dari gerbangpatriot.com.

‎“PSIM itu bukan sekadar barang dagangan. PSIM adalah kebanggaan warga Yogyakarta. Kami mencintai PSIM dengan hati, sejarah, dan pengorbanan,” tegasnya.

‎Menurutnya, keterpurukan tim tidak cukup dijelaskan dengan alasan teknis pertandingan, kualitas lawan, atau nasib buruk di lapangan.

‎“Kalau lima kali main hasilnya terus mengecewakan, jangan salahkan kalau suporter mulai curiga dan bertanya-tanya,” ujarnya.

‎Fokki mengingatkan, kecurigaan suporter harus dijawab melalui keterbukaan, bukan dianggap sebagai fakta tanpa bukti ataupun dibiarkan berkembang menjadi spekulasi.

‎“Jangan biarkan kecurigaan ini menjadi bola liar. Manajemen harus membuka penjelasan secara transparan agar publik tidak terus bertanya-tanya,” katanya.

‎Dalam pertemuan suporter dan manajemen di sekitar Wisma PSIM, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, turut hadir mendengarkan aspirasi.

‎Dalam pertemuan tersebut, sejumlah suporter secara tegas menuntut pelatih Van Gastel diberhentikan dan manajer Iksan mengundurkan diri. Kedua tuntutan itu merupakan aspirasi suporter, bukan keputusan resmi manajemen.

‎Desakan tersebut mencerminkan kekecewaan pendukung terhadap performa tim sekaligus tuntutan agar pihak yang bertanggung jawab segera mengambil langkah nyata.

‎Menanggapi situasi itu, Fokki menegaskan manajemen harus melakukan evaluasi secara serius dan menjelaskan langkah perbaikan kepada publik.

‎“Kalau evaluasi harus dilakukan, lakukan secara sungguh-sungguh. Kalau ada pihak yang harus bertanggung jawab, jangan menghindar,” tegasnya.

‎Ia mengingatkan suporter telah mengorbankan waktu, tenaga, dan uang untuk mendukung PSIM, sehingga layak mendapatkan penjelasan mengenai kondisi klub.

‎“Suporter tidak bisa terus-menerus diminta bersabar tanpa kepastian. Mereka berhak mendapatkan penjelasan yang layak,” tambahnya.

‎Fokki menegaskan PSIM bukan sekadar klub sepak bola, melainkan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Yogyakarta yang harus dijaga bersama.

‎Karena itu, pengelolaan klub harus mengedepankan profesionalisme, transparansi, dan tanggung jawab demi menjaga prestasi serta kepercayaan publik.

‎Ia berharap kehadiran Wakil Wali Kota menjadi momentum memperkuat komunikasi antara suporter, manajemen, dan pihak terkait untuk mencari solusi.

‎“Kami tidak sedang meninggalkan PSIM. Justru karena mencintai PSIM, kami datang, bersuara, dan menuntut perubahan,” ungkapnya.

‎Menurut Fokki, kecintaan suporter tidak boleh hanya dimanfaatkan ketika stadion penuh, tetapi juga harus dihargai saat mereka meminta pertanggungjawaban.

‎Ia menyerukan evaluasi teknis objektif, keterbukaan manajemen, dan keputusan tegas agar PSIM segera keluar dari situasi sulit.

‎“Ojo Di Dol Yow Dab! Jangan biarkan PSIM kehilangan jati dirinya. Klub ini harus dijaga dan dikelola secara bertanggung jawab,” pungkasnya.

(Red)

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *