Menu
SEI GOHONG NEWS

Dua Jenderal Yang Bersinar: Prabowo Melaju Lebih Cepat dari SBY

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, seigohongnews.com – Dalam sejarah Tentara Nasional Indonesia, dua nama jenderal ini selalu berdiri di garis depan ingatan publik: Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto. Keduanya bukan hanya perwira TNI dengan karier cemerlang, tetapi juga tokoh politik besar yang kemudian menentukan arah bangsa.

SBY merupakan senior Prabowo di Akademi Militer, lulusan Akmil 1973, sementara Prabowo menyusul setahun kemudian sebagai lulusan Akmil 1974. Meski hanya terpaut satu angkatan, perjalanan karier militer keduanya berkembang dengan warna yang berbeda namun sama-sama gemilang.

SBY dikenal sebagai perwira pemikir. Kariernya ditempa melalui jalur staf dan diplomasi militer internasional. Salah satu penugasan prestisiusnya adalah saat dipercaya menjadi Chief Military Observer United Nations Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina. Sebelumnya, pengalaman tempur SBY juga tercatat ketika ia menjabat Komandan Batalyon di Dili, Timor Timur.

Sebaliknya, Prabowo tumbuh sebagai perwira lapangan dengan rekam jejak operasi tempur yang intens. Namanya lekat dengan Korps Baret Merah Kopassus, meski sempat pula bertugas di Kostrad. Prestasi-operasi inilah yang membuat karier Prabowo melesat cepat, bahkan melampaui seniornya.

Fakta menariknya, Prabowo lebih dahulu menyandang bintang dua (Mayor Jenderal) dibandingkan SBY. Pada 1995, Prabowo telah menjabat Komandan Kopassus dan resmi berpangkat Mayjen TNI. Di tahun yang sama, SBY masih berpangkat Brigadir Jenderal, menjelang penugasannya ke Bosnia.

Catatan sejarah TNI menyebutkan, percepatan karier Prabowo tak lepas dari keberhasilannya memimpin berbagai operasi penting, termasuk Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma di Papua sebuah misi berisiko tinggi yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan militernya.

Tak berhenti di situ, Prabowo kembali melangkah lebih cepat dengan meraih tiga bintang (Letnan Jenderal) pada 1998 saat menjabat Panglima Kostrad. Sementara itu, SBY baru menyandang pangkat Letjen ketika dipercaya sebagai Kepala Staf Teritorial TNI pada periode 1998–1999.

Meski demikian, perjalanan keduanya tidak berujung pada jabatan Kepala Staf TNI AD maupun Panglima TNI. Karier Prabowo meredup seiring dinamika politik 1998, ketika ia digeser dari Panglima Kostrad menjadi Komandan Sesko TNI untuk pertama kalinya dalam kariernya, ia tak lagi memegang pasukan tempur.

Dua jalur, dua karakter, dua kecepatan namun sama-sama mencatatkan nama dalam sejarah panjang militer Indonesia.

(Eman Supriyadi) Credit to Viva.co.id

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *