Palangka Raya – Kembali salah seorang tokoh Jurnalis Kakteng yang juga Jurnalis Senior, Hartany Soekarno, menyampaikan apresiasinya terhadap posisi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang tetap berada di bawah Presiden Republik Indonesia. Namun demikian, ia menegaskan bahwa Polri harus tetap tegak memegang nilai dasar jati dirinya sebagai pelayan masyarakat.
Menurut Hartany, Polri memiliki landasan moral dan historis yang kuat sebagaimana tertuang dalam Rastra Sewakottama, yang bermakna “Polri adalah abdi utama daripada nusa dan bangsa.” Nilai tersebut merupakan Brata pertama dari Tri Brata yang diikrarkan sebagai pedoman hidup Polri sejak 1 Juli 1954.
Ia menekankan bahwa Polri tumbuh dan berkembang dari rakyat serta ditujukan untuk melayani rakyat. Oleh karena itu, Polri harus berinisiatif dan bertindak sebagai abdi, pelindung, serta pengayom masyarakat, bukan sebagai penguasa. Sikap tersebut, menurutnya, harus dijaga bahkan dalam relasi dengan kekuasaan tertinggi sekalipun.
“Polri harus berjarak dari sikap dan tindakan sebagai penguasa, termasuk terhadap Presiden, apalagi kepentingan kaum oligarki,” tegasnya.
Hartany menilai prinsip tersebut sejalan dengan filosofi kepolisian modern yang dianut di berbagai negara, dikenal sebagai new modern police philosophy dengan semboyan Vigilant Quiescant—kami berjaga sepanjang waktu agar masyarakat tetap tenteram.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak membebani Polri dengan kepentingan politik praktis para politisi maupun kepentingan lain di luar tugas pokok kepolisian. Menurutnya, fokus utama Polri harus tetap pada fungsi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), serta melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
“Polri yang profesional dan berintegritas adalah Polri yang setia pada rakyat dan keadilan,” pungkasnya.
(Eman Supriyadi)















